Pages

Pandemic & (What) I do…

05/07/21

 Kalau dilihat dari daring kbbi yang dikelola oleh pemerintah, pandemic itu:

pan.de.mik /pandémik/

Tesaurus

  1. a Dok tersebar luas (tentang penyakit) di suatu kawasan, benua, atau di seluruh dunia
  2. n Dok penyakit epidemik yang tersebar luas

First thing, semangat untuk semua orang yang berjuang negative dan mungkin jadi tumpuan keluarga untuk menjadi negative.

Kalau dibilang, saya awalnya sudah cukup bersiap jika saya positive, mungkin yang kenal saya secara person to person, saya anaknya cukup burn out if there is no prepare soalnya. Tapi ternyata setelah dikabari bahwa saya positive covid19 tidak semudah itu ya, Saudara. Lebih tidak mudahnya lagi ternyata orang tua saya pun juga kena, yang bahkan harus berkonsultasi ke dokter spesialis. Dan ternyata saya tidak bisa lihat dan tidak pernah merasa siap, jika itu menyerang orang-orang yang saya sayangi.

Betul kata orang kalau misal dunia mu masih baik-baik saja, jika orang tua mu sehat. Peluk hangat untuk orang tua masing-masing.

Lalu apasih yang dirasakan saat terkena Covid19? Jadi saya sempat gak masuk kantor dua hari, tanggal 22 dan 23 Juni 2021. Saya pikirnya di tanggal 21 karena saya puasa dan wajar jika merasa panas dalam dan badan saya tidak enak, tapi setelah betul-betul dirasa tidak biasanya kalau puasa selemas dan seletih ini.

Paginya di tanggal 22 saya memustukan ke dokter, dan berangkat ke kantor siang. Ternyata dari dokternya menyarankan untuk istirahat penuh setidaknya untuk satu hari. Keluhan yang dirasakan, mata saya bengkak sebelah dan memerah, selain itu ya merasa pegal-pegal sekujur tubuh dan laiaknya meriang seperti biasa. Rabu di tanggal 23 Juni masih merasa belum baikan juga, dan memutuskan ijin kantor lagi, dan Kamis 24 Juni memutuskan buat masuk, tapi badan saya merasa masih tidak enak dan tidak nafsu makan. Kemudian, di Jumat tanggal 25 malam hari dikabari kalau ternyata orang tua saya postifive. Apa rasanya? Dunia saya seperti runtuh. Saya rasa tidak berlebihan jika berkata seperti itu, saya tidak bisa tidur semalaman, dan langsung demam. Terbangun di jam 2 pagi, dan mencoba mencium minyak kayu putih, niat hati agar lebih rileks. Dan ternyata gak tercium bau apapun.

Pagi harinya saya memutuskan untuk SWAB Anti-gen dan ya hasilnya saya reaktif. Sempat mencari tempat isolasi mandiri seperti halnya wisma atlet kalau di Jakarta, tapi di sini tidak ada. Hvft Jakarta-sentris. Ya sudahlahya, akhirnya saya isolasi mandiri di kos, alhamdulillah yang punya kos dan teman-teman kos sangat supportif.

Graphical user interface

Description automatically generated

(Source: screen capture campaign Singapore, together towards new normal)

Day#1

Nafsu makan saya tiba-tiba amat sangat drop, tapi masih cukup sanggup untuk beraktivitas yang menunjang diri saya sendiri. Keluhan untuk mata bengkak seperti saya awal sakit, pelan-pelan berkurang.

Day#2 – Day#5

Saya mulai tidak bisa makan sama sekali, dan badan super lemas. Bahkan minum air kelapa atau air mineral juga tidak bisa. Kemudian konsul ke halodoc kalau konsumsi vitamin juga harus dihentikan karena tidak asupan yang masuk ke tubuh. Berasa tidak memiliki semangat hidup dan sejenisnya dan saat yang bersamaan orang tua saya juga belum ada kemajuan yang baik. Double combo.

Sepertinya ini menjadi hari dan fase paling berat untuk para penderita Covid19, menangis sepanjang malam dan entah doa/dzikir apalagi yang harus dirapalkan. Dan di saat ini lah saya memutuskan tidak mau melihat sosial media dan segala bentuk berita kesedihan mengenai covid19. Karena tidak baik untuk penyembuhan dan imun.

Saya coba menarik napas dan menghempuskan panjang, bahwa kesembuhan itu ada dan dimulai start from your mind, but it’s not easy at all to being positive in the middle of your positive rate.

Akhirnya saya memustukan untuk menghubungi halodoc, dan ternyata asam lambung saya naik karena selain setres juga saya terlalu banyak pikiran, ya mau gak kepikiran gimana? Please tell me how? Please! Akhirnya saya diresepkan obat asam lambung termujarab dan setelah coba aku cari tau ini bisa menyebuhkan sepenuhnya asam lambung. Waw dokter halodoc, I’m literally owe you. Dan founder halodoc amal jariyahmu sungguh tidak putus, selain terkait business to business ya haha 😁

Day#6 – Day#10

Hari-hari yang dijalani menjadi lebih ringan, karena mulai doyan makan dan bisa makan. Kemudian anosmianya juga sudah mulai pulih. Hal kecil yang amat sangat disyukuri. Bener yang dibilang bahwa kenikmatan yang sering kali membuat terlena adalah waktu luang dan kesehatan. Jaga Kesehatan setidaknya untuk dirimu sendiri dan orang-orang yang kamu sayangi. It’s mean a lot di tengan pandemic yang kita tidak pernah tau kapan berakhirnya.

Radang tenggorokan dan infeksi mata juga sudah mulai hilang, sudah bisa beraktivitas. Ritme napas juga sudah mulai bagus. Ya sudah mulai pemulihan.

Saat saya tulis cerita ini saya sudah memasuki day ke 11 dan pemulihan. Saya jadi punya aktivitas baru untuk selalu berjemur setiap hari, dan mencuci sendiri hehe

Selain itu, saya lebih bisa berkompromi dengan banyak hal, sebelum saya dinyatakan positive dan orang tua saya dinyatakan positive saya cukup ambisius terkait banyak hal. Ya Pendidikan, ya karir, ya jenjang karir dan segala bentuk achievement duniawi lainnya. Dengan ini saya jadi berpikir ulang, family first and family is the place can accept you how you are, in the high or may be in the bottom point in your life. Rasanya dulu tidak cukup masuk akal dengan alasan orang-rang utrakan terkait, wah saya ingin sekolah dan berkarir dekat dengan rumah, but I know and I feel it. Saya ingin dekat-dekat rumah, menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga, dan bercerita tentang banyak hal.

See? Selalu ada hikmah, ada hal yang baik yang bisa diambil atas segala bentuk musibah maupun ujian. Semangat semuanya! You fill find it after you can through it. Salam hangat untukmu dan keluarga

 

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS