Kalau dilihat dari daring kbbi yang dikelola oleh pemerintah, pandemic itu:
pan.de.mik /pandémik/
- a Dok tersebar
luas (tentang penyakit) di suatu kawasan, benua, atau di seluruh dunia
- n Dok penyakit
epidemik yang tersebar luas
First
thing, semangat untuk semua orang yang berjuang negative dan mungkin jadi tumpuan
keluarga untuk menjadi negative.
Kalau
dibilang, saya awalnya sudah cukup bersiap jika saya positive, mungkin yang kenal
saya secara person to person, saya anaknya cukup burn out if there is no
prepare soalnya. Tapi ternyata setelah dikabari bahwa saya positive covid19
tidak semudah itu ya, Saudara. Lebih tidak mudahnya lagi ternyata orang tua
saya pun juga kena, yang bahkan harus berkonsultasi ke dokter spesialis. Dan
ternyata saya tidak bisa lihat dan tidak pernah merasa siap, jika itu menyerang
orang-orang yang saya sayangi.
Betul
kata orang kalau misal dunia mu masih baik-baik saja, jika orang tua mu sehat. Peluk
hangat untuk orang tua masing-masing.
Lalu
apasih yang dirasakan saat terkena Covid19? Jadi saya sempat gak masuk kantor
dua hari, tanggal 22 dan 23 Juni 2021. Saya pikirnya di tanggal 21 karena saya puasa
dan wajar jika merasa panas dalam dan badan saya tidak enak, tapi setelah betul-betul
dirasa tidak biasanya kalau puasa selemas dan seletih ini.
Paginya
di tanggal 22 saya memustukan ke dokter, dan berangkat ke kantor siang.
Ternyata dari dokternya menyarankan untuk istirahat penuh setidaknya untuk satu
hari. Keluhan yang dirasakan, mata saya bengkak sebelah dan memerah, selain itu
ya merasa pegal-pegal sekujur tubuh dan laiaknya meriang seperti biasa. Rabu di
tanggal 23 Juni masih merasa belum baikan juga, dan memutuskan ijin kantor
lagi, dan Kamis 24 Juni memutuskan buat masuk, tapi badan saya merasa masih
tidak enak dan tidak nafsu makan. Kemudian, di Jumat tanggal 25 malam hari
dikabari kalau ternyata orang tua saya postifive. Apa rasanya? Dunia saya
seperti runtuh. Saya rasa tidak berlebihan jika berkata seperti itu, saya tidak
bisa tidur semalaman, dan langsung demam. Terbangun di jam 2 pagi, dan mencoba
mencium minyak kayu putih, niat hati agar lebih rileks. Dan ternyata gak
tercium bau apapun.
Pagi
harinya saya memutuskan untuk SWAB Anti-gen dan ya hasilnya saya reaktif.
Sempat mencari tempat isolasi mandiri seperti halnya wisma atlet kalau di Jakarta,
tapi di sini tidak ada. Hvft Jakarta-sentris. Ya sudahlahya, akhirnya saya
isolasi mandiri di kos, alhamdulillah yang punya kos dan teman-teman kos sangat
supportif.

(Source:
screen capture campaign Singapore, together towards new normal)
Day#1
Nafsu
makan saya tiba-tiba amat sangat drop, tapi masih cukup sanggup untuk
beraktivitas yang menunjang diri saya sendiri. Keluhan untuk mata bengkak
seperti saya awal sakit, pelan-pelan berkurang.
Day#2 – Day#5
Saya
mulai tidak bisa makan sama sekali, dan badan super lemas. Bahkan minum air
kelapa atau air mineral juga tidak bisa. Kemudian konsul ke halodoc kalau
konsumsi vitamin juga harus dihentikan karena tidak asupan yang masuk ke tubuh.
Berasa tidak memiliki semangat hidup dan sejenisnya ─dan
saat yang bersamaan orang tua saya juga belum ada kemajuan yang baik. Double
combo.
Sepertinya
ini menjadi hari dan fase paling berat untuk para penderita Covid19, menangis
sepanjang malam dan entah doa/dzikir apalagi yang harus dirapalkan. Dan di saat
ini lah saya memutuskan tidak mau melihat sosial media dan segala bentuk berita
kesedihan mengenai covid19. Karena tidak baik untuk penyembuhan dan imun.
Saya
coba menarik napas dan menghempuskan panjang, bahwa kesembuhan itu ada dan
dimulai start from your mind, but it’s not easy at all to being positive in the
middle of your positive rate.
Akhirnya
saya memustukan untuk menghubungi halodoc, dan ternyata asam lambung saya naik
karena selain setres juga saya terlalu banyak pikiran, ya mau gak kepikiran
gimana? Please tell me how? Please! Akhirnya saya diresepkan obat asam lambung
termujarab dan setelah coba aku cari tau ini bisa menyebuhkan sepenuhnya asam
lambung. Waw dokter halodoc, I’m literally owe you. Dan founder halodoc amal
jariyahmu sungguh tidak putus, selain terkait business to business ya haha 😁
Day#6 – Day#10
Hari-hari
yang dijalani menjadi lebih ringan, karena mulai doyan makan dan bisa makan. Kemudian
anosmianya juga sudah mulai pulih. Hal kecil yang amat sangat disyukuri. Bener
yang dibilang bahwa kenikmatan yang sering kali membuat terlena adalah waktu
luang dan kesehatan. Jaga Kesehatan setidaknya untuk dirimu sendiri dan
orang-orang yang kamu sayangi. It’s mean a lot di tengan pandemic yang kita
tidak pernah tau kapan berakhirnya.
Radang
tenggorokan dan infeksi mata juga sudah mulai hilang, sudah bisa beraktivitas.
Ritme napas juga sudah mulai bagus. Ya sudah mulai pemulihan.
Saat
saya tulis cerita ini saya sudah memasuki day ke 11 dan pemulihan. Saya jadi
punya aktivitas baru untuk selalu berjemur setiap hari, dan mencuci sendiri
hehe
Selain
itu, saya lebih bisa berkompromi dengan banyak hal, sebelum saya dinyatakan positive
dan orang tua saya dinyatakan positive saya cukup ambisius terkait banyak hal. Ya
Pendidikan, ya karir, ya jenjang karir dan segala bentuk achievement duniawi
lainnya. Dengan ini saya jadi berpikir ulang, family first and family is the place
can accept you how you are, in the high or may be in the bottom point in your life.
Rasanya dulu tidak cukup masuk akal dengan alasan orang-rang utrakan terkait,
wah saya ingin sekolah dan berkarir dekat dengan rumah, but I know and I feel
it. Saya ingin dekat-dekat rumah, menghabiskan lebih banyak waktu dengan
keluarga, dan bercerita tentang banyak hal.
See? Selalu
ada hikmah, ada hal yang baik yang bisa diambil atas segala bentuk musibah
maupun ujian. Semangat semuanya! You fill find it after you can through it.
Salam hangat untukmu dan keluarga ❤